Ketua DPC Partai NasDem Kecamatan Biau, Samsudin Usman. SpiritNews/HO/Dok. Pribadi
GORONTALO — Ketua DPC Partai NasDem Kecamatan Biau, Samsudin Usman, menilai Indrawati Gobel atau yang akrab disapa Kakak Tiu merupakan sosok yang memiliki kapasitas untuk melanjutkan semangat perjuangan yang telah dibangun almarhum Rachmat Gobel di Gorontalo.
Menurut Samsudin, pengalaman Indrawati dalam mendampingi berbagai aktivitas Rachmat Gobel membuatnya memahami secara dekat pola perjuangan, komunikasi dengan masyarakat, serta hubungan dengan kader Partai NasDem di berbagai tingkatan.
“Selama ini yang kami lihat, Kakak Tiu selalu mendampingi almarhum Kakak Rachmat dalam melaksanakan tugas-tugasnya di Gorontalo. Jadi beliau sangat tahu bagaimana perjuangan Kakak Rachmat, bagaimana membangun hubungan dengan masyarakat dan kader NasDem di berbagai tingkatan,” ujar Samsudin dalam keterangannya, Selasa (15/9/2026).
Bagi Samsudin, kesinambungan kepemimpinan tidak semata-mata berbicara mengenai pergantian figur dalam struktur organisasi. Hal yang lebih penting adalah bagaimana nilai, semangat, dan orientasi pengabdian yang telah dibangun sebelumnya tetap terjaga.
Karena itu, ia memandang kehadiran Indrawati Gobel dalam kepemimpinan Partai NasDem Gorontalo sebagai momentum untuk menjaga kesinambungan perjuangan tersebut sekaligus membuka ruang bagi babak baru organisasi.
Samsudin mengatakan dirinya bersama jajaran pengurus DPC NasDem Kecamatan Biau dan kader di tingkat ranting siap memberikan dukungan terhadap kepemimpinan Indrawati Gobel.
Menurutnya, dukungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan loyalitas terhadap organisasi, tetapi juga merupakan bentuk komitmen kader untuk menjaga nilai-nilai pengabdian yang selama ini ditanamkan Rachmat Gobel.
Ia mengakui bahwa melanjutkan perjuangan dari sosok seperti Rachmat Gobel bukan perkara mudah. Rachmat, kata Samsudin, telah memiliki kedekatan tersendiri dengan masyarakat dan kader NasDem di Gorontalo.
Namun, ia menilai warisan terbesar seorang pemimpin bukan hanya jabatan atau posisi yang pernah ditempati, melainkan nilai dan keteladanan yang ditinggalkan.
“Yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai, semangat, dan cita-cita pengabdian yang telah diwariskan Kakak Rachmat Gobel tetap hidup dan terus berjalan,” kata Samsudin.
Ia berharap kepemimpinan Indrawati Gobel dapat memperkuat semangat kebersamaan dan konsolidasi kader NasDem, termasuk hingga tingkat paling bawah.
Menurut Samsudin, kekuatan partai tidak hanya ditentukan oleh figur yang berada di tingkat pimpinan, tetapi juga oleh soliditas kader dalam menjaga tujuan perjuangan organisasi.
Dalam konteks itu, ia melihat politik semestinya tidak berhenti pada persoalan kekuasaan, perolehan kursi, ataupun kepentingan elektoral. Politik, kata dia, harus mampu menjadi ruang pengabdian dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pandangan tersebut juga menjadi bagian dari refleksi atas perjalanan Rachmat Gobel. Bagi Samsudin, pengalaman Rachmat menunjukkan bahwa kiprah di dunia politik dapat ditempatkan sebagai bagian dari pengabdian yang lebih luas kepada masyarakat dan bangsa.
Karena itu, Indrawati Gobel tidak harus ditempatkan sebagai sosok yang menggantikan Rachmat Gobel secara utuh. Setiap pemimpin memiliki karakter, pengalaman, dan cara masing-masing dalam menjalankan pengabdian.
Yang perlu dijaga, menurut Samsudin, adalah nilai-nilai baik yang telah diwariskan dan kemudian diterjemahkan sesuai dengan kebutuhan serta tantangan baru.
“Meneruskan perjuangan bukan berarti berjalan dengan bayang-bayang masa lalu. Tetapi mengambil nilai terbaik dari keteladanan yang telah ditinggalkan, kemudian menghidupkannya dalam konteks dan tantangan zaman yang baru,” ujarnya.
Samsudin berharap kepemimpinan Indrawati Gobel dapat menjadi kelanjutan dari semangat tersebut, bukan sekadar kelanjutan sebuah nama, tetapi kesinambungan nilai pengabdian, tanggung jawab, kebersamaan, dan keberpihakan kepada masyarakat.
“Rachmat Gobel boleh telah berpulang, tetapi semangat pengabdian, keteladanan, dan cita-cita untuk memberikan manfaat bagi masyarakat tidak boleh ikut berhenti. Nilai itulah yang kini menjadi tanggung jawab bersama untuk terus dirawat dan diteruskan,” pungkas Samsudin Usman.